Pengalaman Masa Orientasi Siswa di SMA
Awal aku masuk di Sekolah Menengah Atas (SMA) rasanya tidak
percaya, karena dalam ingatan terasa baru 3 hari yang lalu lulus dari
sekolah dasar, tapi inilah kenyataan yang kadang tidak bisa diterima
dengan logika namun nilainya berupa fakta. SMAN yang aku pilih adalah
sekolah negri di sekitar rumah. Di sinilah
selain aku mendapat ilmu dari pelajaran umum atau kurikulum yang sudah
ditentukan aku juga banyak mendapat ilmu tentang kehidupan yang
dihubungkan dengan urusan duniawi serta ukhrowi
Ketika hari petama sekolah langsung disambut dengan tegangnya Masa Orientasi Siswa (MOS) yang berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama sekolah atau lebih tepatnya pada hari pertama MOS, aku mulai belajar mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar atau lingkunagan di SMAN 11 MUKOMUKO meskipun hasilnya nihil atau belum kelihatan, karena sekolahku sebelumnya bukan berbasis pada pendidikan agama melainkan sekolah negeri, jadi tidak salah jika proses pengadaptasian berlangsung sedikit lama.
Ketika acara pembukaan MOS yang ditandai dengan upacara bendera sudah selesai peserta MOS termasuk aku masuk ke kelas (kelas di bagi dua kelompok dan campuradur lakilaki dan perempuan) untuk mendapat pengarahan dari kakak OSIS dalam melaksanakan acara berikutnya dan hari berikutnya. Pada saat melihat daftar nama pengurus OSIS aku merasa kaget karena ada 5 kakak OSIS yang aku kenal dekat sebelumnya. ratarata aku sudah kenal semua sama kakak senior,tapi yaaa ngak terlalu akrab gitu, maklumlah ratarata juga yang sekolah di SMAN 11 MUKOMUKO ini adalah satu dusun sama aku. Nah, pada saat itulah aku merasa lebih tenang. Namun, ternyata kenyataan berkata berbeda ada salah satu dari temen peserta MOS dia bernama Indra Jaya dihukum karena melakukan kesalahan yaitu gaduh di dalam kelas peserta MOS, kelima kakak OSIS yang aku kenal tadi bukan seperti yang aku kenal biasanya, meraka marah seperti para eksekutor yang sedang menghakimi orang yang bersalah, rasa tenang yang membius seluruh tubuh berubah menjadi rasa takut dan gelisah sehingga mempercepat denyut jantungku, akhirnya pada saat itulah aku mulai berhati-hati dan sedikit cemas, karena selain aku sendiri dan belum ada yang kenal dengan peserta lainnya, juga orang yang aku kenal sebagai kakak OSIS menjaga jarak dengan batasan yang jauh. Akhirnya pada saat itulah rasa hormatku terhadap senior ditambah lagi, karena seelumnya aku berpikir kalau senior itu hanyalah yang lebuh tua dari aku, dan tingkah lakunya juga masih banyak yang lebih buruk dariku, dengan kata lain masih banyak senior yang tingkah lakunya jauh lebih jelek di bandingkan dengan budi pekerti yang aku miliki. Namun setelah kejadian itu aku mulai belajar menghormati senior lebih tepatnta kakak kelas.
Pada hari kedua MOS tidak jauh berbeda dengan hari pertama, suasana tegang dan takut masih terlihat dari wajah temen-temen peserta MOS termasuk aku. Namun ada yang sedikit berbeda pada hari itu yaitu semua peserta MOS diwajibkan menggunakan atribut yang sudah ditentukan oleh panitia MOS. Atribut tersebut diantaranya : topi kerucut. mengunakan kaus kaki berbeda warna,(untunglah pada saat itu saya lulusan dari MTSN TALANG ARAH dan celananya panjang,jadi ngak terlalu terlihat warna kaosnya berbeda) menggunakan papan nama dengan bukan namanya sendiri melainkan nama hewan (namaku pada waktu MOS adalah Kucing). menggunakan kalung dasar dari perman, ikat pinggang kulit kayu. Itulah atribut-atribut yang harus digunakan mulai dari rumah atau pondok. Selain itu, pada waktu disekolah masih ditambah juga yaitu dengan hukuman yang bermacammacam dari kakak senior. MOS pada hari kedua selesa.
pada hari ketiga MOS yaitu hari terakhir. . .
Setelah pembacaan do’a dan pemeriksaan atribut selesai maka seperti biasa aku dan peserta MOS lainnya masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti acara selanjutnya, sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan acara selanjutnya yaitu hengking, dengan adanya acara itu membuat aku semakin penasaran tentang pengalaman yang aku dapat nantinya. sebelumnya kami sudah siapkam bekal dari rumah masing-masing, setelah mendengar peraturan yang ada di sekolah dimulailah dengan berjalan kaki yang lumayang jauh,di situ kira-kira ada 5 pos yang aku lewati. tak semuanya lancar tapi, kesemua pos itu aku sangat gembira melakukan berbagai aktivitas, dari nyanyi,joget,keagamaan,kesedihan. dll.
kegiatan yang paling berkesan adalah ketika minta tanda tangan kepada warga setempat usai pulang hengking menuju ke rumah sekolah, pada saat itu peserta MOS harus mau disuruh apa saja jika ingin mendapatkan tanda tangan.
dan sesampainya di sekolah kami mengadakan acara ulangtahun salah satu teman saya dan kakak senior,betapa terkejutnya mereka di kerjain dengan berpura pura ekting di seluruh anggota MOS.
dan disitulah merahnya puncak penderitaan MOS.
Ketika hari petama sekolah langsung disambut dengan tegangnya Masa Orientasi Siswa (MOS) yang berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama sekolah atau lebih tepatnya pada hari pertama MOS, aku mulai belajar mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar atau lingkunagan di SMAN 11 MUKOMUKO meskipun hasilnya nihil atau belum kelihatan, karena sekolahku sebelumnya bukan berbasis pada pendidikan agama melainkan sekolah negeri, jadi tidak salah jika proses pengadaptasian berlangsung sedikit lama.
Ketika acara pembukaan MOS yang ditandai dengan upacara bendera sudah selesai peserta MOS termasuk aku masuk ke kelas (kelas di bagi dua kelompok dan campuradur lakilaki dan perempuan) untuk mendapat pengarahan dari kakak OSIS dalam melaksanakan acara berikutnya dan hari berikutnya. Pada saat melihat daftar nama pengurus OSIS aku merasa kaget karena ada 5 kakak OSIS yang aku kenal dekat sebelumnya. ratarata aku sudah kenal semua sama kakak senior,tapi yaaa ngak terlalu akrab gitu, maklumlah ratarata juga yang sekolah di SMAN 11 MUKOMUKO ini adalah satu dusun sama aku. Nah, pada saat itulah aku merasa lebih tenang. Namun, ternyata kenyataan berkata berbeda ada salah satu dari temen peserta MOS dia bernama Indra Jaya dihukum karena melakukan kesalahan yaitu gaduh di dalam kelas peserta MOS, kelima kakak OSIS yang aku kenal tadi bukan seperti yang aku kenal biasanya, meraka marah seperti para eksekutor yang sedang menghakimi orang yang bersalah, rasa tenang yang membius seluruh tubuh berubah menjadi rasa takut dan gelisah sehingga mempercepat denyut jantungku, akhirnya pada saat itulah aku mulai berhati-hati dan sedikit cemas, karena selain aku sendiri dan belum ada yang kenal dengan peserta lainnya, juga orang yang aku kenal sebagai kakak OSIS menjaga jarak dengan batasan yang jauh. Akhirnya pada saat itulah rasa hormatku terhadap senior ditambah lagi, karena seelumnya aku berpikir kalau senior itu hanyalah yang lebuh tua dari aku, dan tingkah lakunya juga masih banyak yang lebih buruk dariku, dengan kata lain masih banyak senior yang tingkah lakunya jauh lebih jelek di bandingkan dengan budi pekerti yang aku miliki. Namun setelah kejadian itu aku mulai belajar menghormati senior lebih tepatnta kakak kelas.
Pada hari kedua MOS tidak jauh berbeda dengan hari pertama, suasana tegang dan takut masih terlihat dari wajah temen-temen peserta MOS termasuk aku. Namun ada yang sedikit berbeda pada hari itu yaitu semua peserta MOS diwajibkan menggunakan atribut yang sudah ditentukan oleh panitia MOS. Atribut tersebut diantaranya : topi kerucut. mengunakan kaus kaki berbeda warna,(untunglah pada saat itu saya lulusan dari MTSN TALANG ARAH dan celananya panjang,jadi ngak terlalu terlihat warna kaosnya berbeda) menggunakan papan nama dengan bukan namanya sendiri melainkan nama hewan (namaku pada waktu MOS adalah Kucing). menggunakan kalung dasar dari perman, ikat pinggang kulit kayu. Itulah atribut-atribut yang harus digunakan mulai dari rumah atau pondok. Selain itu, pada waktu disekolah masih ditambah juga yaitu dengan hukuman yang bermacammacam dari kakak senior. MOS pada hari kedua selesa.
pada hari ketiga MOS yaitu hari terakhir. . .
Setelah pembacaan do’a dan pemeriksaan atribut selesai maka seperti biasa aku dan peserta MOS lainnya masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti acara selanjutnya, sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan acara selanjutnya yaitu hengking, dengan adanya acara itu membuat aku semakin penasaran tentang pengalaman yang aku dapat nantinya. sebelumnya kami sudah siapkam bekal dari rumah masing-masing, setelah mendengar peraturan yang ada di sekolah dimulailah dengan berjalan kaki yang lumayang jauh,di situ kira-kira ada 5 pos yang aku lewati. tak semuanya lancar tapi, kesemua pos itu aku sangat gembira melakukan berbagai aktivitas, dari nyanyi,joget,keagamaan,kesedihan. dll.
kegiatan yang paling berkesan adalah ketika minta tanda tangan kepada warga setempat usai pulang hengking menuju ke rumah sekolah, pada saat itu peserta MOS harus mau disuruh apa saja jika ingin mendapatkan tanda tangan.
dan sesampainya di sekolah kami mengadakan acara ulangtahun salah satu teman saya dan kakak senior,betapa terkejutnya mereka di kerjain dengan berpura pura ekting di seluruh anggota MOS.
dan disitulah merahnya puncak penderitaan MOS.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking